Bayi tabung merupakan produk kemajuan teknologi kedokteran yg demikian canggih yg ditemukan oleh pakar kedokteran Barat yg notabene mereka adl kaum kuffar . Bayi tabung adl proses pembuahan sperma dgn ovum dipertemukan di luar kandungan pada satu tabung yg dirancang secara khusus. Setelah terjadi pembuahan lalu menjadi zygot kemudian dimasukkan ke dlm rahim sampai dilahirkan. Jadi proses tanpa melalui jima’ .
Pertanyaan ini telah ditanyakan kepada salah seorang imam abad ini yaitu Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. mk beliau menjawab:
“Tidak boleh krn proses pengambilan mani tersebut berkonsekuensi minimal sang dokter akan melihat
aurat wanita lain. Dan melihat
aurat wanita lain hukum adl haram menurut pandangan syariat sehingga tdk boleh dilakukan kecuali dlm keadaan darurat.
Sementara tdk terbayangkan sama sekali keadaan darurat yg mengharuskan seorang lelaki memindahkan mani ke istri dgn cara yg haram ini. Bahkan terkadang berkonsekuensi sang dokter melihat aurat suami wanita tersebut dan ini pun tdk boleh.
Lebih dari itu menempuh cara ini merupakan sikap taklid terhadap peradaban orang2 Barat dlm perkara yg mereka minati atau mereka hindari.
Seseorang yg menempuh cara ini utk mendapatkan keturunan dikarenakan tdk diberi rizki oleh Allah berupa anak dgn cara alami berarti dia tdk ridha dgn takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya.
Jikalau saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing kaum muslimin utk mencari rizki berupa usaha dan harta dgn cara yg halal mk lebih-lebih lagi tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing mereka utk menempuh cara yg sesuai dgn syariat dlm mendapatkan anak.”
Menepis Bisikan Setan
Tanya:
Apakah termasuk musibah dan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi seorang hamba bila ia diganggu oleh bisikan-bisikan utk berpikir menanyakan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penciptaan-Nya. Juga bisikan yg menakut-nakuti dia akan hal-hal yg tdk disukai atau takut kehilangan yg dicintai dijenuhkan dgn banyak aturan syariat yg dibebankan kepada sehingga hal tersebut membuat sedih lemas dan mengganggu ibadahnya. Namun ia tetap berusaha utk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ajaran Nabi-Nya.
Natsir-Jayapura
Jawab:
Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man walah.
Apa yg anda alami adl bisikan-bisikan setan sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُوْلُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُوْلَ: مَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ. - وَفِي لَفْظٍ: فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ -
“Setan akan mendatangi salah seorang dari kalian lalu membisikkannya: ‘Siapa yg menciptakan ini? Siapa yg menciptakan itu?’ Sampai kemudian ia akan membisikkan: ‘Siapa yg menciptakan Allah?’ Jika dia sampai pada tingkatan itu mk hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah1 dan berhenti.” 2
Dalam riwayat Muslim yg lain dgn lafadz: “Maka hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.’”
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Hadits ini menjelaskan bahwa setan pasti akan melontarkan pertanyaan yg batil tersebut. Baik sekedar bisikan belaka atau melalui lisan para setan dari kalangan manusia dan ahlul ilhad . Dan fakta adl seperti yg dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam krn dua hal ini benar-benar terjadi.
Setan selalu memasukkan bisikan-bisikan ke dlm qalbu seseorang yg tdk memiliki bashirah dgn pertanyaan yg batil ini. Demikian pula ahlul ilhad senantiasa melontarkan syubhat ini yg merupakan sebatil-batil syubhat.
Mereka juga senantiasa berbicara dan membahas tentang penyebab tercipta alam serta materi penciptaan dgn pembahasan-pembahasan yg lemah dan tdk masuk akal.
Dalam hadits yg agung ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing bagaimana cara menangkal pertanyaan ini yaitu dgn tiga cara:
1. Berhenti dari krn Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi batasan pada akal dan pikiran yg tdk akan mampu dilampaui. Tidak mungkin akal dan pikiran bisa melampaui batasan tersebut krn itu adl sesuatu yg mustahil. Upaya utk mencapai sesuatu yg mustahil adl perbuatan batil dan merupakan kedunguan. Sementara berantai pencipta3 tanpa batas akhir merupakan perkara yg paling mustahil. Karena tiap makhluk memiliki permulaan dan batas akhir dan mungkin saja banyak dari perkara-perkara makhluk yg berantai penciptaan hingga berakhir pada Allah Subhanahu wa Ta’ala yg menciptakan seluruh makhluk sifat materi dan unsur-unsurnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى
“Dan sesungguh kepada Rabbmulah segala sesuatu berakhir.”
Jika jangkauan akal sudah sampai pada batas terakhir mk dia akan berhenti dan menyerah . Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adl Dzat yg Awwal yg tdk ada sesuatupun sebelum dan Dia-lah yg akhir dan tdk ada akhir yg tdk ada sesuatupun setelahnya.4
Jadi keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adl sebagai Dzat yg awal yg mendahului segala sesuatu dan tdk memiliki batas permulaan sejauh manapun kita menarik waktu dan keadaan ke belakang yg bisa ditakdirkan. Karena Dia-lah Dzat yg menciptakan keberadaan seluruh waktu dan keadaan serta akal yg merupakan bagian dari kekuatan manusia. Jika demikian bagaimana mungkin akal akan berupaya memaksakan diri dlm memikirkan pertanyaan yg batil tersebut . Yang wajib bagi akal dlm masalah ini adl berhenti dan mengakhiri apa yg dipikirkannya.
2. Memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan setan.5 Karena ini merupakan was-was dan bisikan setan yg dimasukkan ke dlm qalbu manusia guna menimbulkan syak dlm mengimani Rabb-nya. Wajib bagi tiap hamba jika merasakan hal demikian utk memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari godaan setan dgn kuat dan sungguh-sungguh. Niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengusir setan itu hingga menjauh dari dan lenyaplah was-was dan bisikan yg batil.
3. Menangkal dgn iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para rasul. Karena sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para rasul-Nya telah mengabarkan bahwa Dia-lah yg awal yg tiada sesuatupun sebelumnya. Dia-lah satu-satu Dzat yg memiliki keesaan satu-satu pencipta yg menciptakan segala sesuatu yg ada di masa lalu dan masa yg akan datang.
Keimanan yg benar disertai keyakinan yg kokoh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya akan menangkal seluruh syubhat yg bertentangan dgn iman. Karena kebenaran akan menangkal kebatilan dan syak yg dicampakkan oleh setan tdk akan bisa menggoyahkan keyakinan yg kokoh.
Inilah tiga perkara yg diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg membatalkan syubhat-syubhat yg senantiasa diserukan oleh ahlul ilhad dgn ungkapan-ungkapan yg beraneka macam. Alhamdulillah perkara yg pertama akan mengakhiri kejelekan tersebut saat itu juga. Perkara yg kedua akan mengakhiri sebab yg akan menyeret kepada kejelekan tersebut dan perkara yg ketiga akan membentengi serta melindungi dari segala perkara yg bertentangan dgn iman.
Ketiga perkara ini merupakan kumpulan sebab-sebab yg akan menangkal tiap syubhat yg bertentangan dgn iman6. mk sangatlah patut dilakukan dlm rangka menangkal tiap syubhat dan kesamaran yg merongrong iman. Hendaklah seorang hamba menangkal saat itu juga dgn hujjah-hujjah yg menunjukkan batil serta menetapkan al-haq yg tdk ada selain kecuali kesesatan.
Kemudian berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari setan yg senantiasa mencampakkan ke fitnah syubhat dan syahwat ke dlm qalbu manusia utk menggoyahkan keimanan dan menjerumuskan manusia ke dlm berbagai kemaksiatan. Dengan kesabaran7 dan keyakinan yg dimiliki seorang hamba akan selamat dari fitnah-fitnah syubhat dan syahwat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik dan perlindungan kepada kita.
1 Yaitu dgn membaca:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
“Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yg terlaknat.”
2 Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim .
3 Arti bahwa sang pencipta diciptakan oleh pencipta sebelum tanpa batas akhir.
4 Sebagaimana dlm hadits Abu Hurairah dlm Shahih Muslim .
5 Lihat catatan kaki no. 1.
6 Penjelasan berikut ini juga mengandung jawaban terhadap perkara ke-2 dan ke-3 yg dialami oleh sang penanya.
7 Yaitu bersabar dlm melaksanakan perintah-perintah Allah bersabar dlm meninggalkan larangan-larangan-Nya dan bersabar dlm menerima takdir Allah yg digariskan untuknya.